Kamis, 15 Juni 2023

Akan Diuji dengan Apa yang Kau Bawa

 


Ketika Allah takdirkan sakit ini datang, ada jutaan rasa yang tak terdefinisi. Petanyaan, kenapa aku? Kenapa aku yang sudah menjaga ini? Kenapa aku yang sudah berusaha dengan keras menjaga? Menjaga maknan, menjaga asal makanan, menjaga kebugaran. Dan pertanyaan kenapa dan mengapa lainnya.

Kembali merenung, akan lari kemana label diri yang sudah melekat dan sudah diusahakan selama hamper 10 tahun ini? Bagaimana kalua orang-orang akan berkata, lah koq pegiat organic urban farming malah kena kanker? Lah katanya selama ini menjaga? Lah jangan-jangan selama ini Cuma pencitraan? Duh ya Allah, gimanaa?

Tenggelam dalam lautan tangis, sedih, menyesal, bingung, takut, dan berbagai rasa yang tak terdefinisi. Tangis dalam sujud Panjang mempertanyakan mengapa. Sampai dihari ketika sang belahan jiwa berkata, ini ujian dari Allah buat kita berdua, buat keluarga ini, kita terpilih dapat ujian ini, insyaAllah kita bisa melewati semuanya. Ia pun berkata bahwa, tak usah lagi bertanya kenapa, karena ini hadiah dari Allah, seperti yang dokter bilang.

Ujian ini hadiah dari Allah di usiaku yang tepat 40tahun. Akankah aku bisa melewati semuanya? Akhirnya kuhapus semua tanya mengapa, dan menapaki langkah demi langkah menyusuri jalan yang Allah hadiahkan untukku. Diawali dengan istikharah untuk memilih jalan ikhtiar apa yang akan kami tempuh dalam mengarungi hadiah ini. Sang belahan jiwa akhirnya berkata, ia sudah memutuskan bahwa kami akan menjalani pengobatan medis saja. Ya pengobatan medis adalah pengobatan yang terukur dan sudah memiliki standar untuk hadiah yang Allah berikan.

Mengapa kami yang akan menjalani? Bukankah yang sakit hanya aku? Dokter bilang, semua keluarga berperan dalam menjalani ini semua, karena aka nada saatnya aku butuh pertolongan dari semuanya, terutama kelaurga kecil kami. Beragam pemeriksaan di lakukan untuk menentukan langkah pengobatan yang akan diambil. Dari hari itu, rumah sakit menjadi rumah kedua untuk kami. Kami pun memutuskan untuk pindah sementara mendekati rumah sakit.

Kemoterapi yang kujalani sempat membuat aku bergantung pada morphin. Ada dalam hari-hariku morphin sudah tidak bisa lagi menjadi penghilang rasa sakit luar biasa yang kualami. Saat itu, aku merasa menjadi orang paling sakit sedunia, aku ingin mati saja. Aku memutuskan untuk tidak makan dan minum juga tidak bertemu anak-anak dan menghilang dari dunia. Di hari ketiga, Allah tetap menakdirkan aku tetap hidup, akus sudah lemas, sang belahan jiwa mengingatkan, mati dan hidup makhluk Allah itu sudah ditetapkan, kita tidak bisa mempercepat atau memperlambat. Tiga hari yang syarat makna, melahirkan sebuah hikmah baru dalam hidupku. Bahwa ketika pagi menjelang, aku masih bisa membuka mata, maka bekalku untuk berjumpa denganNYA belum cukup, maka aku harus terus mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk perjumpaan terindah denganNYA. Bahwa kita akan diuji dengan apa yang kita bawa, ketika Allah memberikan hadiah berupa kanker payudara, padahal aku sudah menjaga sedemikian, dan tipe kanker payudaraku ini bukan tipe payudara hormonal, maka dokter berkata, ini adalah hadiah Allah untukku. Maka, kutapaki hari-hari selanjutnya untuk terus menambah bekal, meski kadang terseok, tapi kumelangkah dengan pasti bahwa Allah punya rahasia terindah untukku.

Special untuk belahan jiwa, terimakasih sudah menemani dan terus ada…terimakasih


#tatitatu #rbmipjakarta

Kamis, 21 Oktober 2021

Wahai Derana

 

Wahai derana, kupanggil engkau.

Mendekatlah, karena hanya kau yang harus menemaniku saat ini.

 

Wahai derana, temaniku menikmati semua rasa ini.

Derana, hadirmu sangat berarti untukku.

 

Wahai derana, jadilah sahabat sejatiku.

Karena aku harus ada.

 

Wahai derana, tetaplah disini.

Karena aku taka tau kapan akhirku.

 

Wahai derana, selamanya temaniku.

Karena aku akan berkata, aku baik-baik saja.


#Writober2021

#RBMIPJakarta
#Derana

#writoberday10


Rabu, 20 Oktober 2021

Asa di Jenggala

 

Setapak demi setapak, kunikmati setiap langkah ini.

Menuju sebuah jenggala yang agung akan kemolekannya.

Kuhirup nafas sedalam-dalamnya.

Kunikmati setiap baunya.

 

Jenggala, tempatku melepas penat.

Penat akan sebuah rasa.

Rasa yang hadir tanpa kuundang.

Rasa dari sebuah pesona.

 

Di rimbunnya jenggala,

Aku bisa melupakan semua rasa.


Di teduhnya jenggala,

kulabuhkan asa.

 

Dan aku aku akan berkata, aku baik-baik saja.


#Writober2021

#RBMIPJakarta
#Jenggala

#writoberday9


Selasa, 19 Oktober 2021

Air Kesembuhan

 

Ingin kureguk air dari mata air segar, yang konon bisa menghentikan pesonanya.

Apakah ada?

Sedangkan, tak kujumpai setetespun air.

Apakah ada?

Air yang dapat membakar pesonanya?
Apakah ada?
berapa jauh harus berjalan untuk mendapatkan air itu?
apakah ada?

Haruskan kuhabiskan semuanya, untuk mendapatkan air itu?
Apakah ada?

Air kesembuhan yang dapat kureguk sekali teguk.

Lalu hilang semua rasa ini.

 

Dan aku akan berkata, aku baik-baik saja.


#Writober2021

#RBMIPJakarta
#Air

#writoberday8


Senin, 18 Oktober 2021

Pil Sakti

 

Ketika pesonanya teurs menyebar dalam tubuhku, aku akan berusaha menolak kehadirannya.

Berusaha sekuat tenaga, bertahan.

Mengerahkan segala upaya untuk bisa mengusir rasa.

Rasa yang konon bisa hilang ketika aku meminum sebuah pil sakti.

Pil sakti yang akan menghentikan pesonanya

Meminum pil itu akan meruntuhkan pesonanya?

Ternyata tidak, meminum pil sakti hanya membuat aku tertidur dan terlena.

Lupa, bahwa dia ada.

Dan aku akan berkata, aku baik-baik saja.


#Writober2021

#RBMIPJakarta
#Minum

#writoberday7


Minggu, 17 Oktober 2021

Kabar Pesona

 

Hari ini aku mengerti, kenapa rasa sakit itu datang dan pergi.

Ada yang sedang memberi kabar padaku. 

Dia yang selama ini keberadaannya tak kuhiraukan. 

Rupanya dia sedang memberikan pesonanya pada tubuhku.

Memberi aba-aba akan kehadirannya.

Menebarkan pesona yang entahlah.

Tubuhku pun bingung harus merespon bagaimana.

Haruskah kubiarkan dia menebarkan pesonanya terus menerus?

Ataukah kuhentikan sekarang juga?

 

Dan aku akan berkata, aku baik-baik saja.


#Writober2021

#RBMIPJakarta
#Pesona

#writoberday6


Sabtu, 16 Oktober 2021

Tumbuh dalam tubuh

 

Ada yang tumuh dalam diriku?

Manusia kan memang tumbuh terus? 

Entah ke atas atau ke samping.


Tapi, ini bukan itu.

Lalu? 

Ya, dia tumbuh, seperti definisi tumbuh pada umumnya. 

Dia membesar, menghasilkan sesuatu, yg bisa mengaalir begitu saja. Tanpa permisi.


Ya, dia tumbuh, dan memberikan sedikit rasa yang terus kutepis.

Rasa yang tidak akan ada orang lain tahu selain aku.

Dan aku kan terus berkata, aku baik-baik saja.


#Writober2021

#RBMIPJakarta
#Tumbuh

#writoberday5