4 Desember Kelabu
Kurang lebih jam 17.30
Ketika aku masuk kerumah, ghaziah berteriak, “mamah ade (Al
Fath) dipukulin Mamah T”.
Kulihat Al Fath duduk di kursi menghadap tembok sambal terisak.
Langsung kupeluk, “mamah kalau ayah pulang, ayah harus pukulin Mamah T ya, kaya
dia pukulin aku hari ini”
Aku Tarik nafas panjang, aku minta kedua anakku dan asistenku
(Mba Ida) menjelaskan detail kejadian. Kuajak mereka ke TKP, untuk reka ulang
kejadian.
Kutanya pasti, apakah T tertabrak sepeda Al Fath?
Al Fath & Ghaziah meyakinkan aku, bahwa tubuh T tidak
sedikitpun terkena ban sepeda AL fath, yang ada tangannya memegang sepeda al
fath bagian stang, karena dia memang sedang menghalang-halangi Al Fath main
sepeda.
Kembali aku ulang, keduanya menjawab sama. Bahkan keduanya
meyakinkan bahwa T sama sekali tidak goyah dan tetap berdiri tegak. “Kalau ketabrak
itu posisinya turunan mah, dia pasti jatoh, eh mamahnya ujug-ujug nyuapin paksa
bubur ke mulut ade, trus sepeda ade dibanting, trus ade di tarik seret, diangkat
belakang kaos ade sambal teriak Masih kecil jaa lo ya, gue bilangin bapak lo
ya, mba ida ini anaknya diajarin jangan suka mukulin orang” ghaziah dengan
semangat menceritakan kronologi kejadian padaku.
Ummi sebelah rumahku keluar, “ummi sampe mules liatnya, liat
mamanya T mukulin al fath, ummi buru-buru turun, udah ga keburu, harusnya
kalaupun anaknya ketabrak, harusnya dia ga begitu sama anak orang”
Aku bicara agak keras, “ ya Allah koq bisa sih setega itu
sama anak aku”
kupanggil Bang Nun, sang Security, dia tidak melihat kejadian itu. malah diredakannya
amarahku, “udah bu kita tetangga, udah jangan dibesarin kalau masalah anak-anak.”
“Loh kalau masalah anak sama anak, harusnya orang tua jangan
ikutan lah”ujarku
“mamah, masuk mah, udh mau magrib, aku udh ngerti, mereka
berdua ga salah,” Anak shalihah mengingatkan.
Aku masuk kerumah, kuajak kedua anakku masuk.
Dengan segenap emosi yang menggelegak aku tuliskan status,
bahwa anakku di pukuli ibunya temannya, aku harus bagaimana, sedangkan ayahnya
masih diatas pesawat, aku lemas, kulihat sisa bubur di rambut al fath masih
ada.
Saat di luar al fath sempat menjelaskan “pas mamah T maksa
aku makan bubur N (adiknya T) aku lepeh buburnya, ini dua kali lepehan aku,
sampe mamahnya numpahin bubur dikepala aku”.
Aku lemas, aku buntu, ada sisi yang memintaku langsung
melabrak mamah T, namun aku berpikir, itu bukan solusi. Kalau anak-anak
melihatku emosi dan baku hantam dengan mamah T, apa bedanya mamahnya degan
Mamah T yang sudah melakukan tindakan keji pada anakku.
Kubaca perlahan ayat kursi, kuambil air, kuminum.
Yang terpikrikan saat itu adalah Pakde W (pakdenya T) yang
tinggal persis di sebrang rumah kami.
Wa ku tak terbaca, maka kuputuskan untuk meneleponnya.
Kukatakan padanya bahwa al fath dipukili mamah T, dan aku ga
akan ke rumah Mamah T karena khawatir ribut. Pakde W pun melarangku. Pakde W
meyakinkanku akan menegur ayah T.
Namun setelah melihat wa ku yang kuceritakan inti kronologi
cerita, pakde W mengirimi aku no Ayah T, dan memintaku menegur langsung.
Dengan ucapan Bismillah, aku mengetikkan kata-kata yang
intinya aku tidak terima atas perlakuan istrinya kepada anakku, dan aku meminta
mereka minta maaf segera kepada anakku. Jika mereka tidak meminta maaf sampai
hari ahad, maka aku akan membawa kasus ini ke ranah hukum, karena ini sudah
termasuk aksus kekerasan terhadap anak.
Ayah T membalas wa aku kalau abis magrib akan kerumah kami.
Ketika shalat magrib, kubaca surat Al Insyirah dan ayat
kursi, sambil menitikkan air mata, kulihat al fath juga menyeka air matanya. Sujud
terakhirpun kupanjangkan, memohon petunjuk pada Allah.
Selesai shalat, kupeluk keduanya, aku bilang ada al fath,
ini sudah terjadi ya nak, ini takdir, mamah tau mas al fath sedih, sakit, tapi
kita harus memafkan orang yang meminta maaf. Al fath terisak di pelukanku.
18.30
Ayah T dan mamah T masuk kedalam rumah, aku mendahului, maaf
yaa pak, mba,
Ayah T: saya yang minta maaf, al fath maafin ayah ama mamah T
ya. Sekalian saya mau menjelaskan kronologis kejadian sebenernya dari pihak
saya ya bu. Ini ibu lihat CCTV nya.
Kulihat rekaman cctv komplek kami. Al fath main bersama T,
Al fath mulai muter2 naik sepeda, T mulai memutar2 tangan ingin memukul al
fath, al fath mulai menangkis, muter lagi, seperti ingin menabrak T, dihalangi
ghaziah, lalu al fath muter lagi, T
menghalang2i sepeda al fath, nah disini kejadian di mulai, terlihat di cctv al
fath menabrak T, lalu ibunya langsung memasukkan sendok bubur ke mulut al fath
dengan sporadis, al fath melepeh bubur, marah dan melempar sepeda mengenai mamah
T, lalu mamah T mengangkat dan membanting sepeda al fath. Kulihat al fath
berdiri menunduk, Tarik nafas dan menendang mamah T, mamah T menangkis pukulan
al fath menarik tangan al fath, al fath menarik diri sampai hampir terlepas
lalu Mamah T menarik kaos al fath dari belakang sampai kaki al fath terangkat. Lalu
mamah T seperti melempar al fath ke pelukan mba ida. Mba ida memeluk al fath.
Aku langsung lemes.
Aku sambal sedikit emosi berkata, ya udh kalau memang T
tertabrak al fath ayo kita ke RS atau langsung ke kantor polisi. Tapi ingat,
pasti mba nya yang kena delik, karena mba melakukan kekerasan sama anak saya.
Eh mba, anak-anak mah berantem sebentar, besok juga main
lagi. Yang ada mba nya malu kalau ketemu saya.
Mamah T sempat berkata, namun langsung di bentak ayah T “diam
kamu, udah aku bilang, diam kamu, kita kesini buat minta maaf”
Allah menyelematkan emosi saya, karena suami saya menelepon,
pesawatnya sudah landing di Palembang.
Selesai berkabar sedikit, saya bilang ini ada mamah T dan
ayah T minta maaf dan al fath sudah maafkan.
Sempat kuceritakan pada kedua orangtua T bagaimana T pernah
menyembunyikan sandal al ftah selama dua hari, sampai kami harus membeli sandal
baru, ternyata T menyembunyikan sandal al fath di tong sampah kosong yang ada di
depan rumah kami, karena hari itu al fath tidak mau diajak main olehnya. Kuceritakan
lagi beberapa “kenakalan” anak mereka yang masih berumur umur 4 th, yang selalu
aku toleransi. Bagaimana anaknya aku ajarkan salam ketika masuk rumah, karena
berkali-kali masuk kerumah tanpa salam, belum mandi sudah ngajak main. Sampai menjadi
kebiasaaan T kalau abis mandi lapor padaku dan minta di cium “mamah apat aku
udah mandi mau cium aku?”
Kuceritakan pada kedua orangtuanya, bahwa anak laki-laki itu
nakal, masih dalam tahap wajar, harusnya dia tidak berlaku seperti itu pada
anakku. Langsung aku sudahi saja pertemuan itu, karena al fath mulai terisak
lagi di pelukku.
Status wa sudah ku update, menjelaskan ttg pertemuan kami,
kami sudah memafkan mereka. Al fath pun sudah memaafkan. Semua wa yang masuk
menanyakan aku balas dengan “Mohon doanya semoga al fath menjadi anak shalih”
Tidak ada telpon yang aku angkat kecuali telpon dari
mamahku. Mamahku memastikan anaknya tidak ikut emosi. Ya, mamah sangat mengenal
anaknya, aku adalah orang Banten Asli yang bisa senggol bacok kapan saja, ingat
kasus kami dengan tetangga belanag rumah yang pejabat pemda DKI, yang berujung rumah kami didatangi satpol PP,
itu karena kutantang sang pejabat untuk melaporkan, namun berakhir malu pada
sang pejabat, karena air cucuran atap rumahnya sejak berdiri, jatuh kedalam
rumahku. Komandan satpol PP malu luar biasa, karena ternyata pejabat yang
dibelanya malah melakukan kesalahan fatal bertahun-tahun dan kami tidak pernah
memperkarakannya.
itu gambaran bagaimana aku sebagai anak Banten Asli.
Aku meyakinkan mamah, sambil berurai air mata, aku bercerita
pada kakang dan mamah, bahwa sejak sore aku murojaah 4 lembar Al Baqarah,
karena malam itu aku berencana menyetorkan hafalanku. Kukatakan pada mamah dan
kakang, Allah menjaga lisanku, Allah menjaga emosiku. Alhamdulillah.
Dengan kedua orangtua T datang meminta maaf padaku, itu
sudah mempertahankan marwah (Pride) anakku, dan menunjukkan pada anak-anakku
mamahnya elegan dalam menyelesaikan masalah. Malah mamahnya meminta maaf juga.
Pukul 22.00 di tempat tidur.
Mas al fath, ada yang sakit?
Ada mah, ini tangan kanan aku (sambi lmemutar
pergelangannya) ini aku sakit, Karena mamah T Tarik aku disini.
Mamah minyakin ya nak, gpp sakit ya, ada mamah, kita berdoa
Allahumma afini fii badani. (kuoles semua punggung, sampai ke tangan kanan dan
kirinya) Adalagi yang sakit?
Ini mah kaki dari sini (menunjuk lutut) sampai sini
(menunjuk telapak kaki) ini tuh, pas mamah T Tarik kaos aku bagian belakang,
aku tahan jangan sampai kaki aku lepas dari aspal, tapi ga bisa, akhirnya lepas
juga kaki aku dari aspal
Ya sini mamah minyakin ya nak, insya Allah sembuh, Alalhumma
afini fii badani. (ada bulir air mata yang ingin jatuh, kutahan sebisa mungkin)
ada lagi?
Ga ada.
Besok diurut ya?
Iya sama ummi (mamahku) aja. Tapi oci juga diurut ya mah,
kasian oci aku liat oci juga di sentil muka nya ama Mamah T
Iya nanti kita bilang sama ummi, semua di urut. Bobo yuk
Kumulai dzikir sebelum tidur, air mataku sudah tak tertahan,
sambal kuusap terus tak lebih dari lima menit, al fath tertidur.
Aku langsung keluar dari kamar. Aku menangis sejadi-jadinya.
Ku telpon suamiku.
Malam itu sulit sekali aku memejamkan mataku.
Sabtu, 5 Desember 2020
Selepas subuh, ku cek keadaan al fath, kepalanya panas,
kaget bukan kepalang.
Kucek kembali, masih hangat menuju panas. Termometer tidak
ada.
Ya Allah kembali aku menangis, memohon pertolongan Allah.
Mamahku video call
“mas alfath mau dimasakin apa? ummi sudah beli udang dan
cumi”
“aku ga selera makan, mi.”
“ya Allah mas al fath ga boleh gitu, ga boleh sedih, ada
ummi yang sayang mas al fath”
Kulihat mamahku berkaca-kaca.
Aku sudah tidak berani menampakkan muka pada mamah, karena
air mataku sudah deras mengalir. Anakku yang jago makan tetiba kehilangan
selera makan, udang dan cumi kesukaannya.
“mau diamsakin apa donk sama ummi?
“bubur aja mi, yang enak”
“kalau pudding mau?”
“mau, cukup mi, bubur sama pudding”
Aku sudah tidak tahan, lagi, kuminta mamah mengakhiri
teleponnya
“udah ya mi, mas al fath lagi minum jus buah naga madu, mau
minum obat soalnya”
Mamahku menangkap kesedihanku dan menutup video call pagi itu.
Mah, pak ade suruh cepetan mah, aku mau kerumah ummi. Pinta al
fath
Iya nak.
Kuminta pak Ade driver datang lebih cepat, agar al fath bisa
segera diurut mamahku.
Kubereskan semua agenda yang sudah direncanakan.
McD pancoran pukul 14.lebih
Mba McD: “ini mainan happy meal nya bu”
Oci: “yah jangan yang itu mah, dirumah udah ada, minta yang
lain”
Al fath: gpp mah yang itu aja, nanti biar bisa aku kasih T
(aku kaget)
Oci & belva bersamaan: ngapain kamu masih mikirin T,
mamahnya udh jahat sama kamu
Aku: gapapa ya mas, kita harus tetep baik sama T, kan mamahnya
udah minta maaf
Oci: ga aku ga ikhlas, ga usah kasih udah mah ambil aja,
tapi aku ga akan kasih T, awas ya de, ga boleh kasih T
Al fath: ya udah mana makanannya deh aku mau disuapin
Pengayoman, pukul 16lebih
Al fath: Aww..sakit mi sakit..udah udah
Ummi: Astagfirullah ini diapain anaknya sih piiii
Aku: Ya al fath nahan mah, ibu itu Tarik,
Ummi: Ya Allah, ini mamah ga kuat benerinnya, ke tukang urut
beneran aja dah ini mah, takut parah kalau didiemin.
Kami memutuskan menginap malam itu di pengayoman (rumah
kakangku) agar kami semua bisa istirahat. Al fath hanya mau dipeluk aku. Sampai
tertidur dalam pelukanku.
Aku masih sulit tidur, masih terputar terus kejadian rekaman
cctv sore itu.
Selepas subuh, aku baru bisa merasakan tidur.
Puri lele, pukul 19.00
Bang topik (Tukang urut keseleo): abis jatoh ya? Ini kok
kanananya udh bengkak
Suamiku: abis Tarik-tarikan
Bang topik: ada Tarik tambang emang? Duh ya Allah ini sampe
peradangan otot ini pak, bu..duh nariknya ampe gimana sih de..
Al fath: sibuk nonton yutub
Aku: hampir nangis lagi.
Puri lele, pukul 21 lewat
Kami mengajak al fath mengalirkan rasa kembali sebelum
tidur.
Kalau kata kak bel, semua temen kabel menyarankan baku
hantam. Dan kalau kak bel ada, pasti kak bel belain aku, aku jadi ga digituin
ama mamah T.
Aku sudah tidak bisa menemukan kata untuk menjawabnya,
ayahnya yang menanggapi semua perkataan al fath.
7 desember 2020
Kebun alami, pukul 8lewat
Aku: Mas harus berbuat sesuatu agar anaknya meras dibela ama
ayahnya, jangan diem aja.
Mas: iya nanti mas ajak ketemuan mas G nya (ayah T)
Suamiku membuat janji dengan ayah T untuk membicarakan hal
ini malam nanti abis magrib.
Puri lele, selepas magrib
Suamiku menjelaskan bahwa suamiku bisa saja mengambil jalur hukum,
karena suamiku paham ini kasus yang dapat di perkarakan lewat jalur hukum,
suamiku sudah merekam semua bukti cctv dan mengirimkannya pada teman-teman yang
mengerti. Dan teman-teman meminta sebelum 1x24jam harus masuk laporannya ke
kepolisian terdekat.
Suamiku menjelaskan bahwa saya ga ambil jalur itu mas,
tetangga itu keluarga terdekat, saya selau ingat pesan umminya anak-anak saya,
bahwa kita harus baik ama tetangga, ga akan kita bisa jalan kekuburan sendiri,
sodara jauh, orang tua jauh, tetangga adalah yang terdekat.
Cuma sebagai pemimpin mas G harus bisa mengambil keputusan,
mendidk istri, memberitahu istri bahwa yang dilakukan istri mas G itu ga baik. Istri
itu ibu, dia di contoh anak-anaknya. Orang tua itu ga sepantasnya ikut permasalahan
anak-anak.
Aku langsung masuk pembicaraan. Lah kejadian kemarin kan
anaknya malah ga kenapa-kenapa, al fath sama T ga berantem, kok mamahnya yang
emosi kaya gitu.
Kalau Al fath insya Allah nanti kami tangani, sudah ada teman
ahli terapis trauma teman saya yang akan menangani.
Seperti yang saya bilang sama mas G di wa, sekarang mas G
urus istri mas G aja, karena seorang ibu yang baik itu sejatinya ga akan berbuat
seperti itu sama anak orang lain, meskipun anaknya dilukai sama anak lain,
harusnya tetap dewasa. Ga begitu caranya.
Mohon maaf ya mas, Saya akhirnya bisa menyusun puzzle kenapa
K & T sangat kasar kalau main, karena ibunya begitu. Itu jadi PR mas G.
jangan sampai anak-anak mas G menganggap sikap ibunya benar dalam meghadapi
masalah, emosi begitu. Anak-anak mas G juga harus dikasih pengertian, kalau
tindakan ibunya ga benar.
Mohon maaf, al fath, anak saya juga bukan anak baik-baik,
lurus-lurus, al fath anak umur 6 tahun yang punya kenakalan sendiri. Mungkin mamah
T merasa al fath nakal, oh saya terima anak saya dibilang nakal, tapi nakalnya
anak saya saya anggap wajar, anak saya ga pernah, mukul duluan, anak saya ga
pernah bereaksi kalau ga ada aksi. Dan perlu mas G tau, mau bagaimanapun versi
keluarga mas G, saya lebih percaya omongan anak-anak saya. Karena saya ibunya.
Banyak temen-temen saya yang ahli parenting, psikolog,
ketika saya ceritakan kisah itu bilang bahwa yang harusnya di terapi itu istri
mas G. karena sudah melakukan tindakan kekerasan, khawatirnya jadi lebih parah.
Jangan sampe ada korban lagi sama anak lain atau sama anak mas G sendiri.
Orang haji lele sini semua Tanya sama saya siapa yang berani
kaya gitu sama anak saya. Semua emosi, semua pengen ngelabrak, karena
orang-orang haji lele ini tau siapa saya, gimana saya sama anak-anak.anak-anak
sehaji lele saya ajak main, di lapangan sebelum ada rptra, semua saya bacain
buku.
Tapi mas G tenang aja saya udh bilang di status saya bahwa
kami sudah memaafkan kesalahan istri mas G. kami tinggal urus trauma al fath.
Suami saya bilang pada mas G, bahwa jangan mas G
terprovokasi omongan orang lain, termasuk keluarga mas G dan keluarga istri mas
G. ini masalah saya selaku kepala keluarga dan mas G selaku kepala keluarga,
apa yang dilakukan istri, itu tanggung jawab suaminya. Ga usah dengerin orang
lain. Seperti saya jelaskan tadi, kalau saya mau perkarakan ini ke ranah hukum,
gampang buat saya. Tapi saya ga milih
jalur itu.
Mas G meminta mamaf dan berterimakasih pada kami sudah
dengan lapang dada memaafkan istrinya.
Cased closed sama keluarga Bapak G.
Tapi sebelum tidur al fath masih bilang, kalau temen-temen
kak bel nyuruh kak bel baku hantam, kak bel pasti belain aku..
Ya Allah yang maha menggenggam hati anakku, lapangkan
hatinya, mudahkan ia memaafkan, hilangkan ingatannya atas peristiwa sore itu,
jadikan ini menjadi jalan keshalehannya.
Puri lele, 8 Desember 2020 pukul 00:28
Efi, emak yang berusaha menulis sebagai trauma healing
Rekaman cctv itu ga bisa berhenti berputar dikepala