Rabu, 09 Desember 2020

Berkarya bersama, Berbagi dan Melayani


Komunitas Ibu Professional, sejak awal bergabung bersama komunitas ini hanya ada bahagia. value komunitas berbagi dan melayani, membuat saya terpacu untuk terus maju, berkarya dan memberikan yang saya bisa sesuai value. 

Bersedia menjadi ketua rumbel berkebun adalah usaha saya utk berbagi dan melayani di komunitas ini. Melahirkan karya bersama teman2 rumbel berkebun membuat saya bahagia. 

Berkebun juga menjadikan saya bisa mempersembahkan sayuran organik yang bisa dipetik kapan saja utk memenuhi kebutuhan keluarga. 

Seiring semakin besarnya komunitas ini, lahirlah CoC yg menurut saya menjadikan komunitas ini makin keren. Saya makin cinta. 

Suami saya pun semakin mendukung. Krn di komunitas ini, istrinya menemukan jalan bahagia dan penyaluran berbagai potensi diri yang dimiliki sang istri. 

Alhamdulillah...

Banyak karya yang saya lahirkan bersama teman-teman komunitas, khususnya IP Jakarta.

Memiliki teman satu ideologi rasa saudara, membuat saya bersyukur tiada henti. 

Berbagai perubahan aturan komunitas juga saya jalani dengan suka cita, termasuk masuk ke babak main di saung sambut semai ini. Meskipun member lumutan yang dpt keistimewaan berada di rumbel Krn mengambil peran sbg narsum. Saya tetap sukacita ikut babak main ini. Serunya bertemu dengan calon warga komunitas yg semangat, memberikan nafas baru untuk saya agar lebih bisa berbagi dan melayani di komunitas ini. 

Dan untuk menambah kemanfaatan saya dalam komunitas ini, terpikirlah sebuah mini project yang sedang digarap bersama 2orang sahabat baru di wag calon warga komunitas. 

Nantikan kejutan dari kami yaa....


#aliranrasa3 

#babakmain3orientasi #KampungMainKomunitas #komunitasibuprofesional


Selasa, 08 Desember 2020

4 Desember Kelabu

 

4 Desember Kelabu

Kurang lebih jam 17.30

Ketika aku masuk kerumah, ghaziah berteriak, “mamah ade (Al Fath) dipukulin Mamah T”.

Kulihat Al Fath duduk di kursi menghadap tembok sambal terisak. Langsung kupeluk, “mamah kalau ayah pulang, ayah harus pukulin Mamah T ya, kaya dia pukulin aku hari ini”

Aku Tarik nafas panjang, aku minta kedua anakku dan asistenku (Mba Ida) menjelaskan detail kejadian. Kuajak mereka ke TKP, untuk reka ulang kejadian.

Kutanya pasti, apakah T tertabrak sepeda Al Fath?

Al Fath & Ghaziah meyakinkan aku, bahwa tubuh T tidak sedikitpun terkena ban sepeda AL fath, yang ada tangannya memegang sepeda al fath bagian stang, karena dia memang sedang menghalang-halangi Al Fath main sepeda.

Kembali aku ulang, keduanya menjawab sama. Bahkan keduanya meyakinkan bahwa T sama sekali tidak goyah dan tetap berdiri tegak. “Kalau ketabrak itu posisinya turunan mah, dia pasti jatoh, eh mamahnya ujug-ujug nyuapin paksa bubur ke mulut ade, trus sepeda ade dibanting, trus ade di tarik seret, diangkat belakang kaos ade sambal teriak Masih kecil jaa lo ya, gue bilangin bapak lo ya, mba ida ini anaknya diajarin jangan suka mukulin orang” ghaziah dengan semangat menceritakan kronologi kejadian padaku.

Ummi sebelah rumahku keluar, “ummi sampe mules liatnya, liat mamanya T mukulin al fath, ummi buru-buru turun, udah ga keburu, harusnya kalaupun anaknya ketabrak, harusnya dia ga begitu sama anak orang”

Aku bicara agak keras, “ ya Allah koq bisa sih setega itu sama anak aku”


kupanggil Bang Nun, sang Security, dia tidak melihat kejadian itu. malah diredakannya amarahku, “udah bu kita tetangga, udah jangan dibesarin kalau masalah anak-anak.”

“Loh kalau masalah anak sama anak, harusnya orang tua jangan ikutan lah”ujarku

“mamah, masuk mah, udh mau magrib, aku udh ngerti, mereka berdua ga salah,” Anak shalihah mengingatkan.

Aku masuk kerumah, kuajak kedua anakku masuk.

Dengan segenap emosi yang menggelegak aku tuliskan status, bahwa anakku di pukuli ibunya temannya, aku harus bagaimana, sedangkan ayahnya masih diatas pesawat, aku lemas, kulihat sisa bubur di rambut al fath masih ada.

Saat di luar al fath sempat menjelaskan “pas mamah T maksa aku makan bubur N (adiknya T) aku lepeh buburnya, ini dua kali lepehan aku, sampe mamahnya numpahin bubur dikepala aku”.

Aku lemas, aku buntu, ada sisi yang memintaku langsung melabrak mamah T, namun aku berpikir, itu bukan solusi. Kalau anak-anak melihatku emosi dan baku hantam dengan mamah T, apa bedanya mamahnya degan Mamah T yang sudah melakukan tindakan keji pada anakku.

Kubaca perlahan ayat kursi, kuambil air, kuminum.

Yang terpikrikan saat itu adalah Pakde W (pakdenya T) yang tinggal persis di sebrang rumah kami.

Wa ku tak terbaca, maka kuputuskan untuk meneleponnya.

Kukatakan padanya bahwa al fath dipukili mamah T, dan aku ga akan ke rumah Mamah T karena khawatir ribut. Pakde W pun melarangku. Pakde W meyakinkanku akan menegur ayah T.

Namun setelah melihat wa ku yang kuceritakan inti kronologi cerita, pakde W mengirimi aku no Ayah T, dan memintaku menegur langsung.

Dengan ucapan Bismillah, aku mengetikkan kata-kata yang intinya aku tidak terima atas perlakuan istrinya kepada anakku, dan aku meminta mereka minta maaf segera kepada anakku. Jika mereka tidak meminta maaf sampai hari ahad, maka aku akan membawa kasus ini ke ranah hukum, karena ini sudah termasuk aksus kekerasan terhadap anak.

Ayah T membalas wa aku kalau abis magrib akan kerumah kami.

Ketika shalat magrib, kubaca surat Al Insyirah dan ayat kursi, sambil menitikkan air mata, kulihat al fath juga menyeka air matanya. Sujud terakhirpun kupanjangkan, memohon petunjuk pada Allah.

Selesai shalat, kupeluk keduanya, aku bilang ada al fath, ini sudah terjadi ya nak, ini takdir, mamah tau mas al fath sedih, sakit, tapi kita harus memafkan orang yang meminta maaf. Al fath terisak di pelukanku.

 

18.30

Ayah T dan mamah T masuk kedalam rumah, aku mendahului, maaf yaa pak, mba,  

Ayah T: saya yang minta maaf, al fath maafin ayah ama mamah T ya. Sekalian saya mau menjelaskan kronologis kejadian sebenernya dari pihak saya ya bu. Ini ibu lihat CCTV nya.

Kulihat rekaman cctv komplek kami. Al fath main bersama T, Al fath mulai muter2 naik sepeda, T mulai memutar2 tangan ingin memukul al fath, al fath mulai menangkis, muter lagi, seperti ingin menabrak T, dihalangi ghaziah,  lalu al fath muter lagi, T menghalang2i sepeda al fath, nah disini kejadian di mulai, terlihat di cctv al fath menabrak T, lalu ibunya langsung memasukkan sendok bubur ke mulut al fath dengan sporadis, al fath melepeh bubur, marah dan melempar sepeda mengenai mamah T, lalu mamah T mengangkat dan membanting sepeda al fath. Kulihat al fath berdiri menunduk, Tarik nafas dan menendang mamah T, mamah T menangkis pukulan al fath menarik tangan al fath, al fath menarik diri sampai hampir terlepas lalu Mamah T menarik kaos al fath dari belakang sampai kaki al fath terangkat. Lalu mamah T seperti melempar al fath ke pelukan mba ida. Mba ida memeluk al fath.

 

Aku langsung lemes.

Aku sambal sedikit emosi berkata, ya udh kalau memang T tertabrak al fath ayo kita ke RS atau langsung ke kantor polisi. Tapi ingat, pasti mba nya yang kena delik, karena mba melakukan kekerasan sama anak saya.

Eh mba, anak-anak mah berantem sebentar, besok juga main lagi. Yang ada mba nya malu kalau ketemu saya.

Mamah T sempat berkata, namun langsung di bentak ayah T “diam kamu, udah aku bilang, diam kamu, kita kesini buat minta maaf”

Allah menyelematkan emosi saya, karena suami saya menelepon, pesawatnya sudah landing di Palembang.

Selesai berkabar sedikit, saya bilang ini ada mamah T dan ayah T minta maaf dan al fath sudah maafkan.

Sempat kuceritakan pada kedua orangtua T bagaimana T pernah menyembunyikan sandal al ftah selama dua hari, sampai kami harus membeli sandal baru, ternyata T menyembunyikan sandal al fath di tong sampah kosong yang ada di depan rumah kami, karena hari itu al fath tidak mau diajak main olehnya. Kuceritakan lagi beberapa “kenakalan” anak mereka yang masih berumur umur 4 th, yang selalu aku toleransi. Bagaimana anaknya aku ajarkan salam ketika masuk rumah, karena berkali-kali masuk kerumah tanpa salam, belum mandi sudah ngajak main. Sampai menjadi kebiasaaan T kalau abis mandi lapor padaku dan minta di cium “mamah apat aku udah mandi mau cium aku?”

Kuceritakan pada kedua orangtuanya, bahwa anak laki-laki itu nakal, masih dalam tahap wajar, harusnya dia tidak berlaku seperti itu pada anakku. Langsung aku sudahi saja pertemuan itu, karena al fath mulai terisak lagi di pelukku.

Status wa sudah ku update, menjelaskan ttg pertemuan kami, kami sudah memafkan mereka. Al fath pun sudah memaafkan. Semua wa yang masuk menanyakan aku balas dengan “Mohon doanya semoga al fath menjadi anak shalih”

Tidak ada telpon yang aku angkat kecuali telpon dari mamahku. Mamahku memastikan anaknya tidak ikut emosi. Ya, mamah sangat mengenal anaknya, aku adalah orang Banten Asli yang bisa senggol bacok kapan saja, ingat kasus kami dengan tetangga belanag rumah yang pejabat pemda DKI,  yang berujung rumah kami didatangi satpol PP, itu karena kutantang sang pejabat untuk melaporkan, namun berakhir malu pada sang pejabat, karena air cucuran atap rumahnya sejak berdiri, jatuh kedalam rumahku. Komandan satpol PP malu luar biasa, karena ternyata pejabat yang dibelanya malah melakukan kesalahan fatal bertahun-tahun dan kami tidak pernah memperkarakannya.

itu gambaran bagaimana aku sebagai anak Banten Asli.

Aku meyakinkan mamah, sambil berurai air mata, aku bercerita pada kakang dan mamah, bahwa sejak sore aku murojaah 4 lembar Al Baqarah, karena malam itu aku berencana menyetorkan hafalanku. Kukatakan pada mamah dan kakang, Allah menjaga lisanku, Allah menjaga emosiku. Alhamdulillah.

Dengan kedua orangtua T datang meminta maaf padaku, itu sudah mempertahankan marwah (Pride) anakku, dan menunjukkan pada anak-anakku mamahnya elegan dalam menyelesaikan masalah. Malah mamahnya meminta maaf juga.

 

Pukul 22.00 di tempat tidur.

Mas al fath, ada yang sakit?

Ada mah, ini tangan kanan aku (sambi lmemutar pergelangannya) ini aku sakit, Karena mamah T Tarik aku disini.

Mamah minyakin ya nak, gpp sakit ya, ada mamah, kita berdoa Allahumma afini fii badani. (kuoles semua punggung, sampai ke tangan kanan dan kirinya) Adalagi yang sakit?

Ini mah kaki dari sini (menunjuk lutut) sampai sini (menunjuk telapak kaki) ini tuh, pas mamah T Tarik kaos aku bagian belakang, aku tahan jangan sampai kaki aku lepas dari aspal, tapi ga bisa, akhirnya lepas juga kaki aku dari aspal

Ya sini mamah minyakin ya nak, insya Allah sembuh, Alalhumma afini fii badani. (ada bulir air mata yang ingin jatuh, kutahan sebisa mungkin) ada lagi? 

Ga ada.

Besok diurut ya?

Iya sama ummi (mamahku) aja. Tapi oci juga diurut ya mah, kasian oci aku liat oci juga di sentil muka nya ama Mamah T

Iya nanti kita bilang sama ummi, semua di urut. Bobo yuk

Kumulai dzikir sebelum tidur, air mataku sudah tak tertahan, sambal kuusap terus tak lebih dari lima menit, al fath tertidur.

Aku langsung keluar dari kamar. Aku menangis sejadi-jadinya. Ku telpon suamiku.

Malam itu sulit sekali aku memejamkan mataku.

 

 

 

 

Sabtu, 5 Desember 2020

Selepas subuh, ku cek keadaan al fath, kepalanya panas, kaget bukan kepalang.

Kucek kembali, masih hangat menuju panas. Termometer tidak ada.

Ya Allah kembali aku menangis, memohon pertolongan Allah.

Mamahku video call

“mas alfath mau dimasakin apa? ummi sudah beli udang dan cumi”

“aku ga selera makan, mi.”

“ya Allah mas al fath ga boleh gitu, ga boleh sedih, ada ummi yang sayang mas al fath”

Kulihat mamahku berkaca-kaca.

Aku sudah tidak berani menampakkan muka pada mamah, karena air mataku sudah deras mengalir. Anakku yang jago makan tetiba kehilangan selera makan, udang dan cumi kesukaannya.

“mau diamsakin apa donk sama ummi?

“bubur aja mi, yang enak”

“kalau pudding mau?”

“mau, cukup mi, bubur sama pudding”

Aku sudah tidak tahan, lagi, kuminta mamah mengakhiri teleponnya

“udah ya mi, mas al fath lagi minum jus buah naga madu, mau minum obat soalnya”

Mamahku menangkap kesedihanku dan menutup video call pagi itu.

 

Mah, pak ade suruh cepetan mah, aku mau kerumah ummi. Pinta al fath

Iya nak.

Kuminta pak Ade driver datang lebih cepat, agar al fath bisa segera diurut mamahku.

Kubereskan semua agenda yang sudah direncanakan.

 

McD pancoran pukul 14.lebih

Mba McD: “ini mainan happy meal nya bu”

Oci: “yah jangan yang itu mah, dirumah udah ada, minta yang lain”

Al fath: gpp mah yang itu aja, nanti biar bisa aku kasih T (aku kaget)

Oci & belva bersamaan: ngapain kamu masih mikirin T, mamahnya udh jahat sama kamu

Aku: gapapa ya mas, kita harus tetep baik sama T, kan mamahnya udah minta maaf

Oci: ga aku ga ikhlas, ga usah kasih udah mah ambil aja, tapi aku ga akan kasih T, awas ya de, ga boleh kasih T

Al fath: ya udah mana makanannya deh aku mau disuapin

 

Pengayoman, pukul 16lebih

Al fath: Aww..sakit mi sakit..udah udah

Ummi: Astagfirullah ini diapain anaknya sih piiii

Aku: Ya al fath nahan mah, ibu itu Tarik,

Ummi: Ya Allah, ini mamah ga kuat benerinnya, ke tukang urut beneran aja dah ini mah, takut parah kalau didiemin.

 

Kami memutuskan menginap malam itu di pengayoman (rumah kakangku) agar kami semua bisa istirahat. Al fath hanya mau dipeluk aku. Sampai tertidur dalam pelukanku.

Aku masih sulit tidur, masih terputar terus kejadian rekaman cctv sore itu.

Selepas subuh, aku baru bisa merasakan tidur.

 

Puri lele, pukul 19.00

Bang topik (Tukang urut keseleo): abis jatoh ya? Ini kok kanananya udh bengkak

Suamiku: abis Tarik-tarikan

Bang topik: ada Tarik tambang emang? Duh ya Allah ini sampe peradangan otot ini pak, bu..duh nariknya ampe gimana sih de..

Al fath: sibuk nonton yutub

Aku: hampir nangis lagi.

 

Puri lele, pukul 21 lewat

Kami mengajak al fath mengalirkan rasa kembali sebelum tidur.

Kalau kata kak bel, semua temen kabel menyarankan baku hantam. Dan kalau kak bel ada, pasti kak bel belain aku, aku jadi ga digituin ama mamah T.

Aku sudah tidak bisa menemukan kata untuk menjawabnya, ayahnya yang menanggapi semua perkataan al fath.

 

 

 

 

 

7 desember 2020

Kebun alami, pukul 8lewat

Aku: Mas harus berbuat sesuatu agar anaknya meras dibela ama ayahnya, jangan diem aja.

Mas: iya nanti mas ajak ketemuan mas G nya (ayah T)

 

Suamiku membuat janji dengan ayah T untuk membicarakan hal ini malam nanti abis magrib.

 

Puri lele, selepas magrib

Suamiku menjelaskan bahwa suamiku bisa saja mengambil jalur hukum, karena suamiku paham ini kasus yang dapat di perkarakan lewat jalur hukum, suamiku sudah merekam semua bukti cctv dan mengirimkannya pada teman-teman yang mengerti. Dan teman-teman meminta sebelum 1x24jam harus masuk laporannya ke kepolisian terdekat.

Suamiku menjelaskan bahwa saya ga ambil jalur itu mas, tetangga itu keluarga terdekat, saya selau ingat pesan umminya anak-anak saya, bahwa kita harus baik ama tetangga, ga akan kita bisa jalan kekuburan sendiri, sodara jauh, orang tua jauh, tetangga adalah yang terdekat.

Cuma sebagai pemimpin mas G harus bisa mengambil keputusan, mendidk istri, memberitahu istri bahwa yang dilakukan istri mas G itu ga baik. Istri itu ibu, dia di contoh anak-anaknya. Orang tua itu ga sepantasnya ikut permasalahan anak-anak.

Aku langsung masuk pembicaraan. Lah kejadian kemarin kan anaknya malah ga kenapa-kenapa, al fath sama T ga berantem, kok mamahnya yang emosi kaya gitu.

Kalau Al fath insya Allah nanti kami tangani, sudah ada teman ahli terapis trauma teman saya yang akan menangani.

Seperti yang saya bilang sama mas G di wa, sekarang mas G urus istri mas G aja, karena seorang ibu yang baik itu sejatinya ga akan berbuat seperti itu sama anak orang lain, meskipun anaknya dilukai sama anak lain, harusnya tetap dewasa. Ga begitu caranya.

Mohon maaf ya mas, Saya akhirnya bisa menyusun puzzle kenapa K & T sangat kasar kalau main, karena ibunya begitu. Itu jadi PR mas G. jangan sampai anak-anak mas G menganggap sikap ibunya benar dalam meghadapi masalah, emosi begitu. Anak-anak mas G juga harus dikasih pengertian, kalau tindakan ibunya ga benar.

Mohon maaf, al fath, anak saya juga bukan anak baik-baik, lurus-lurus, al fath anak umur 6 tahun yang punya kenakalan sendiri. Mungkin mamah T merasa al fath nakal, oh saya terima anak saya dibilang nakal, tapi nakalnya anak saya saya anggap wajar, anak saya ga pernah, mukul duluan, anak saya ga pernah bereaksi kalau ga ada aksi. Dan perlu mas G tau, mau bagaimanapun versi keluarga mas G, saya lebih percaya omongan anak-anak saya. Karena saya ibunya.

Banyak temen-temen saya yang ahli parenting, psikolog, ketika saya ceritakan kisah itu bilang bahwa yang harusnya di terapi itu istri mas G. karena sudah melakukan tindakan kekerasan, khawatirnya jadi lebih parah. Jangan sampe ada korban lagi sama anak lain atau sama anak mas G sendiri.

Orang haji lele sini semua Tanya sama saya siapa yang berani kaya gitu sama anak saya. Semua emosi, semua pengen ngelabrak, karena orang-orang haji lele ini tau siapa saya, gimana saya sama anak-anak.anak-anak sehaji lele saya ajak main, di lapangan sebelum ada rptra, semua saya bacain buku.

Tapi mas G tenang aja saya udh bilang di status saya bahwa kami sudah memaafkan kesalahan istri mas G. kami tinggal urus trauma al fath.

Suami saya bilang pada mas G, bahwa jangan mas G terprovokasi omongan orang lain, termasuk keluarga mas G dan keluarga istri mas G. ini masalah saya selaku kepala keluarga dan mas G selaku kepala keluarga, apa yang dilakukan istri, itu tanggung jawab suaminya. Ga usah dengerin orang lain. Seperti saya jelaskan tadi, kalau saya mau perkarakan ini ke ranah hukum, gampang buat saya.  Tapi saya ga milih jalur itu.

Mas G meminta mamaf dan berterimakasih pada kami sudah dengan lapang dada memaafkan istrinya.

 

Cased closed sama keluarga Bapak G.

 

Tapi sebelum tidur al fath masih bilang, kalau temen-temen kak bel nyuruh kak bel baku hantam, kak bel pasti belain aku..

Ya Allah yang maha menggenggam hati anakku, lapangkan hatinya, mudahkan ia memaafkan, hilangkan ingatannya atas peristiwa sore itu, jadikan ini menjadi jalan keshalehannya.

 

Puri lele, 8 Desember 2020 pukul 00:28

Efi, emak yang berusaha menulis sebagai trauma healing

Rekaman cctv itu ga bisa berhenti berputar dikepala