Selaksa luka di Perpustakaan Daerah
Siang itu, aku dan kedua anakku bersiap menuju perpustakaan daerah di bilangan Jakarta Selatan. Kami bersiap dan membawa semua buku yang kami pinjam untuk kami kembalikan. Siang yang panas, membuat adik kecil menangis, aku panik dan tanpa sengaja menumpahkan susu adik dan terkena buku yang akan kami kembalikan. Aku berusaha mengeringkannya, tidak berhasil. Kaka sudah panik, dan sibuk mengeringkan buku itu. Perjalanan kami dari rumah menuju perpustakaan daerah sekitar satu jam.
Sesampainya di perpustakaan kami langsung absen dan menuju meja petugas untuk mengembalikan buku. Peristiwa itu terjadi. Petugas langsung memarahi kami, kami jelaskan dengan baik-baik, petugasnya tidak terima dan langsung menyita kartu perpustakaan kami. Kaka Samapi menangis tersedu. Alasan kami tidak diterima oleh petugas. Aku sangat emosi, bingung mendiamkan Kaka yg tidak terima kartu perpusnya diambil. Kaka menangis keras sekali. Aku sempat melakukan negosiasi agar kartu perpustakaan kami tidak disita. Petugas tetap bersikeras bahwa kami hanya bisa mendapatkan kartu kami bila kami mengembalikan buku yang sama persis. Tangis Kaka makin keras.
Aku menunduk menyejajarkan mataku dengan mata Kaka, "Kaka kita cari bukunya ya" . Akhirnya tangis Kaka mulai reda dan kami meninggalkan perpus dengan luka menganga. Negosiasi kami tidak berhasil. Bahkan petugas tidak bisa mentoleransi tangis Kaka. Diperjalanan pulang, aku berusaha menghubungi penerbit buku dan menanyakan keberadaan buku itu, dan ternyata buku itu sudah tidak dicetak ulang. Kaka mendengarnya, seketika tangisnya menggema didalam mobil. "petugas perpustakaan jahat, kita ga bisa lagi ke perpus, petugas perpus jahat", Kaka berteriak histeris.
Aku ikut menitikkan air mata, aku masih terus mencari buku di toko-toko buku online, nihil. Ah, kecewa sekali. Kulihat Kaka tertidur di sampingku, tidur dalam tangis. Ah, anakku saat mamahmu ini sibuk membuatmu mencintai buku dan perpustakaan, kecelakaan kecil ini membuatmu terluka.
Ketika sampai dirumah, Kaka berkata, "udah mah ga usah dicari lagi bukunya, kita ga usah lagi ke perpus itu, Kaka ga suka sama petugas-petugasnya". Aku berusaha menjelaskan bahwa kita bisa datang lagi dan aku akan menjelaskan bahwa bukunya sudah tidak dicetak lagi dan kita berusaha mengganti buku yang sejenis, seperti yang aku sampaikan di depan petugas. "Aku denger mah mereka ga mau terima usul mamah, aku ga suka juga mereka gituin mamah," ucap Kaka. Ah, anakku, mamahmu ini bingung dan sedih.
Sampai hari ini, kami tidak pernah lagi datang ke perpustakaan itu, bahkan melewatinya saja kaka tidak mau. Aku sedih, sebagai ibu pegiat literasi, aku terluka.