“Kaka tau, kamu pasti gak akan
mikirin tampang sesorang untuk kamu jadikan suami, kaka yakin kamu jadikan
tampang lelaki itu nomor kesekian setelah kebaikan dan keshalehannya” kalimat
itu terus terngiang-ngiang dalam pikiranku. Setelah kubolak balik lembaran yang
berisi foto dan biodata singkat seorang laki-laki, akhirnya kumantapkan hati
untuk meng-sms kakanda. Kakanda sudah menanyakan berulang perihal jawabanku
tentang bio-data itu. "Bismillah, insyaAllah Lanjut ya ka..tapi kalau udah
ketemu, terus gak jadi gpp Kan? Hehe" Demikian sms kukirimkan. Dalam
hitungan detik, jawaban sms masuk "insyaAllah Lanjut".
Hari yang ditentukan pun tiba,
dimintanya aku berdandan rapi, pakai baju bagus, lalu meninggalkan sandal jepit
kesukaanku. Ahhh Makin penasaran, Kaya apa wujud nya lelaki itu. Sampai dirumah
kakanda, obrolan berlangsung agak tegang, karena kakanda berulang memesankanku
agar Tak bertanya hal-hal yang bisa membuat lelaki itu bingung. Memangnya
menurut kakanda apa yang Akan keluar dari mulut adiknya ini. Mungkin bakat isengku
sangat mengkhawatirkannya.
Jam 13.00 waktu yang sudah kami
sepakati, datang seorang lelaki yang sudah kukenal wajahnya R namanya. Diluar
dugaanku, ternyata R adalah sahabat sang lelaki yg ada di lembaran itu. R
membawa pesan akan keterlambatan lelaki dalam lembaran bio-data itu.
Keisenganku muncul, "Kak,
kalau orangnya gak dateng sampe ashar, aku pulang Saja, kereta kalo malem
penuh, lain Kali Aja dah ketemunya," dengan nada agak tinggi aku
menyampaikan. "Ish...Jangan kenceng2 ngomongnya malu itu sama si R, kata R
insyaAllah ashar udah sampe, orangnya Masih kena macet di puncak" ujar
kakanda sambil berekspresi agak kesal.
Adzan ashar berkumandang, lelaki
itu belum juga datang, dan keponakanku sudah mulai bertanya, "sebenernya
Tante nunggu siapa sih? Kita main lagi Aja yuk", "udah qih Tante capek,
Tante belom kenal orangnya, yang kenal mamah tuh, apa Tante pulang aja
ya?" Ujarku. "Main ama aku lagi Aja", keponakanku kembali
mengajak main. Mainan model apa lagi yang mau kami mainkan, aku sudah capek,
dandanan mulai kusut, prasangka buruk mulai menghampiri.
"Kak, kalau orangnya gak
dateng ampe jam 5, aku beneran pulang aja deh, belom jodoh kali," nada
kesal sudah kuungkapkan. "Sabar, orangnya biasanya gak gini koq, orangnya
amanah, selalu menepati janji, jalanan gak bisa di prediksi, dia Abis Ngisi
acara MLM di puncak, dia leader MLM loh, gak Aan nyesel deh, tunggu sebentar
lagi", kakanda Masih berikeras menahanku.
Pikiran buruk Tak bs kuusir
Pergi, kalo orangnya amanah, Kenapa Kali ini dia melanggar janji, bukankah
katanya waktu ini dia yang pilih. Seberapa layak nya dia Sampai aku harus
menunggu selama ini. Cewek macam apa aku sampai disuruh nunggu sampe lumutan
begini.
Akhirnya sebelum jam5 ada Mobil
masuk halaman dan seorang lelaki turun dari mobil langsung di sambut R yg sudah
menanti dengan cemas karena mendengar obrolanku dengan kakanda.
Tanpa basa basi, Kak A (suami
kakandaku) membuka pertemuan kami, dia duduk di kursi tamu dekat pintu, di
sebelah Kak A. Aku dan kakanda duduk di ujung sebrang meja. Seketika jantungku
berdegup kencang, ahaaa jauh sekali tampangnya dengan yang di lembaran itu, ini
ganteng, idungnya mancung, bajunya matching, pakai baju koko coklat senada
dengan celananya, macam abis ceramah di masjid. Aku memperhatikan dari ujung
rambut sampai ujung kakinya, sementara dia minta maaf dan menjelaskan kondisi jalan Cisarua yang macetnya diluar prediksinya.
Ada yang melorot dalam dada ini
saat pandangan kami bertemu, ahhh apa pula ini, keringat ditanganku bertambah
banyak, ketika dia bertanya sambil memandang lalu menunduk malu, "Ana dimaafin
Kan ukh". "Pastinya akh parasto, dimaafin", kakanda menyambar
dengan cepat. Hahhh...aku langsung menyenggol siku kakandaku, aku yg ditanya,
bisikku. Udah ah, Lanjut. Hadehh ada konspirasi nih pikirku. Sebelum memulai
obrolan serius kami, ia menyampaikan ada oleh-oleh untukku Dan keluargaku
sebagai permohonan maafnya karena terlambat. Ahhh lagu lama nih...nyogok ahh..
Dengan santai kujawab, aku
baliknya kekosan, gak kerumah. Dengan halus dia menjawab, ya kalau gitu
oleh2nya buat ukhti dan teman2 kosan. Dehh alus bener nih orang. Masih dengan
gaya serampanganku, masa telatnya lama banget bawanya moci doank. Kakanda
langsung mendorong siku ku dengan sikunya. Yang sopan, ujarnya galak. Tapi
dasar akunya bandel, jawaban asal-asalan berikutnya tetap keluar dari mulut
usilku.
Saat break magrib dan semua
laki-laki ke masjid, akulah yang jadi bahan evaluasi kakanda, ”awas abis
ini ngomongnya harus hati-hati”, ujar kakanda. “abis sih telat selama itu masa
ngasihnya moci doank, ama tape lagi, deuuhh dikira kita apaan”, jawabku. Kakanda
selalu punya pandangan berbeda dari adiknya ini, “kamu tuh harus liat dari sisi
yang berbeda, oleh-oleh ini bermakna bahwa dia sayang keluarga, dia perhatian,
malah dia tawarin manggis kan, padahal kata dia manggisnya itu oleh-oleh buat
kakak iparnya yang lagi ngidam manggis, itu nilai plus loh, banyak laki-laki
gak peka, tapi dia beda. “ahh, kaka mah nge-leading, ada konspirasi nih
kayanya,” ujarku santai dan ngeyel. “kaka nih perempuan, insyaallah perasaan
kaka peka, kaka udah bantu istikharah juga, insyaallah ini jawaban atas doa2mu.
Bismillah, abis ini kita lanjut dan harus lebih fokus kamu mau mengenal dia dari
sisi mana lagi, jangan iseng, serius,”kakanda kembali meyakinkan aku. “iya,
iya,” hanya itu yang bisa kujawab.
Obrolan pun terus berlangsung
sampai jam menunjukkan pukul 20.30, aku sudah ingin menyudahinya sebelum itu,
tapi kemudian dia bilang ada yang ingin ditanyakannya lagi dan lagi dan lagi. Dan
kemudian ketika aku ungkapkan masalah waktu, dia bilang ada voucher taksi yang
dihadiahkannya untukku Pulang, jadi aku tak perlu berjejalan di kereta, karena
bawaanku pun banyak. Duuhhhhh hati ini makin berbunga. Saat obrolan hari itu di
tutup, dan aku bersiap pulang, sambil menunggu taksi, aku kembali dipesankan
kakanda, bahwa ia adalah lelaki shaleh, bertanggungjawab, yang insyaAllah bisa
mempertanggungjawabkan aku dihadapan Allah kelak.
Sepanjang perjalanan dengan taksi
biru, sebuah kemewahan buat aku yang cuma mahasiswa yang lagi nyambi kerja dan
masih kos. Kembali kupandangi moci, tape dan seikat manggis serta berbagai
oleh-oleh khas puncak memenuhi kursi sebelahku. Sesampainya di kosan semua
makanan disambut meriah teman-teman kosan yang rata-rata anak rantau, dan
tiba-tiba aku merasa tidak suka moci. Semua makanan tidak ada yang kusentuh.
Berawal dari hari itu, dia mulai
hadir dalam hidupku, mengenalkannya pada mamah, kakak laki-laki dan keluarga
kami, dan setiap berkunjung ia selalu membawa oleh-oleh untukku dan kami. Itu adalah
ciri khas nya katanya. Enam bulan kemudian kami menikah.
Sepuluh tahun sudah kami
mengarungi bahtera rumah tangga, dan sampai hari ini, setiap melihat moci dyang
dibungkus kotak bambu, aku kembali mengingatnya, mengingat hari pertama kami
berjumpa. Dan sampai saat ini, aku selalu menggodanya dengan satu kalimat “sampai
hari ini, ade belum pernah melihat mas seganteng hari pertama kita bertemu”. Mas
akan menjawab, “itu dibantu pertolongan Allah dan malaikatnya”.
Puri Lele, 17 Oktober 2017