Jumat, 23 Oktober 2020

Tribute to Mamah

 



Rangkaian tulisanku untuk event writober ini adalah catatan penggalan kisahku bersama mamah, mamah yang dipanggil Allah saat pagebluk ini menerpa negri.

Mamah, beliau biasaku panggil, seorang ibu tangguh dari seorang lelaki yang sangat kucintai. Yap, beliau adalah ibu mertuaku. Namun, aku tak pernah menyebutnya ibu mertua, karena buatku, ketika aku dinikahi anak lelaki mamah, maka aku adalah anaknya. 

Ideal sekali hubungan kami, seperti tak pernah ada konflik diantara kami, ahh teman. I’m just ordinary woman, I’m just ordinary wife. Aku Cuma lulusan universitas yang konon, terbaik di negri ini. Aku bukan lulusan sekolah istri, apalagi sekolah menantu ideal.

 Bahkan aku tak pernah ikut kursus singkat bagaimana menjadi menantu dan istri yang baik. Aku cuma perempuan yang  berusaha menjalankan kewajiban sebaik yang aku bisa tanpa berharap mendapatkan hak, adalah bonus buatku ketika kewajiban semua tertunaikan dengan baik.

Semua rangkaian tulisan di writober ini adalah penggalan kisah indah dari jutaan kisah indah hubunganaku dengan mamah. Semua kisahku indah, itu yang selalu kutanamkan dalam benak. Karena semua ksiah berakhir indah, meski Allah menakdirkan kami berpisah lebih cepat. 12 tahun 8 bulan 4 hari menjadi menantu mamah, membuatku belajar bagaimana menjadi menantu yang baik untuknya, dan menjadi istri yang baik untuk suamiku.

Penggalan perjalanan indahku ini, bagaimana pincangnya hidupku selepas kepergiannya. Bagaimana rinduku padanya, karena tanpa kusadari, aku tak pernah melewatkan pekan tanpa meneleponnya. Bagaimana tanggapnya mamah ketika aku sibuk dengan beragam kegiatanku. Bagaimana mamah selalu hadir disaat aku kesulitan. Mamah selalu Bahagia saat kutitipkan anak-anak, ketika aku harus mendampingi suami keluar kota, atau sekedar kencan memelihara cinta.

Allah mengambil mamah disaat terindah hubungan kami. Bahkan selepas kuucapkan dengan verbal, bahwa aku sayang padanya. Mungkin itu hal yang jarang terucap dikeluarga kami. Tapi itu semua kulakukan, saat suster mengizinkanku meneleponmu di ruang isolasi. Kuungkapkan semua rasa, kau minta didoakan, dan aku pastikan bahwa doaku selalu untukmu, efi sayang mamah. Kau jawab lantang, mamah sayang neng efi. Beberapa jam setelah itu, Allah merengkuhmu dalam pelukan indah. Pelukan yang mengakhiri semua sakitmu, semua sesakmu dan semua beban hidupmu. 

 

 Mamah, biarkan aku terus menyimpan rindu ini, hingga Allah pertemukan kita kelak di JannahNya.

 

#Writober2020 #RBMIPJakarta #Asa #writoberday10 

Kamis, 22 Oktober 2020

Titik

Apakah kematian adalah titik?

Sedangkan sosokmu masih hidup disini, dalam benak.

Apakah kematian adalah titik?

Sedangkan semua kisah kita masih lekat dalam ingatan.

Apakah kematian adalah titik?

Sedangkan bayangmu selalu ada dalam desahan nafas.

Apakah kematian adalah titik?

Sedangkan harum tubuhmu masih tersimpan dalam hidung.

Apakah kematian adalah titik?

Ketika harap masih ada tuk menjumpaimu di surgaNya kelak

Apakah kematian adalah titik?


#Writober2020 #RBMIPJakarta #titik #writoberday9

 

 

Rabu, 21 Oktober 2020

Wastra Coklat Tumpal

 

“Assalamualaikum, mamah”

“waalaikumsalam, ya neng”

“sehat mah?”

“Alhamdulillah”

“Bapak?”

“Alhamdulillah, sehat”

“mah, mau ada Leader Camp Ibu Professional, di Salatiga, dua minggu lagi, efi berangkat ama mas ama anak-anak.”

“iya mamah udah dibilangin ama mas, terus gimana?”

“hehe biasa mah, mau pinjem kain, hihi, disuruh pake dress code daerah masing-masing, pake kebaya encim aja kali ya mah?”

“iya ada, mamah punya, kesini aja, pilih, mau yang mana”.

“oke mamah, makasih, besok kesana yaa”

“iya sayang”

 

“ini kebaya encim waktu mamah ketemu gubernur, ini aja cocok buat efi, tapi kainnya aja, bajunya udah kurang bagus, kainnya ini khas betawi, kata orang betawi asli sini, ini kain bagus, makanya mamah simpen. Cocok deh pake jilbab coklat, pake baju kurung putih aja. Efi kan punya.”


“oh iya bagus ya mah”

“iya tumpalnya bagus, modelnya juga bagus, cocok, udah bawa aja, ga usah di kembaliin, buat efi kalau ada perlu-perlu”

“wah jadi enak donk, makasih mamah”

Dan kau dengan bahagia menyerahkan koleksi kain terbaikmu padaku.

 

#Writober2020 #RBMIPJakarta #Wastra #writoberday8

Selasa, 20 Oktober 2020

Mamah dan Pepaya Dewangga

 



Desember 2017

Seperti desember-desember sebelumnya, kau selalu meminta kami pulang untuk mengisi liburan akhir tahun di Kebumen. Namun, kali ini aku tidak ikut bersamamu, hanya menitipkan dua anakku bersamamu dan semua keluarga, karena aku belajar bersama teman-teman IP Banyumas Raya Chapter Kebumen. Seperti biasa kau meyakinkanku untuk pergi mengisi kelas dan memastikan kaka dan mba baik-baik saja bersamamu. Sambil bersepakat kita kan bertemu di Pantai Bocor.

Selama menuggumu, aku dan mas melihat-lihat kebun papaya yang sangat luas terhampar di sekitar Pantai Bocor. Lalu aku dan mas melakukan swa foto di depan salah satu kebun papaya, dan mengunggahnya di media social. Itulah sejarah awal berdirinya Kebun papaya organik kami.

 

Februari 2018

Aku dan mas terus berbincang tentang kebun pepaya dan mempelajarinya.

Ketika kami berdua merasa mantap, kami mengungkapkannya padamu, kau menyambut ide kami dengan suka cita, dan berjanji kau akan membantu untuk menyampaikan  ide kami kepada bapak.

Kami pun membicarakannya dengan bapak tentu saja dengan bantuan engkau.

Bapak menyetujui ide itu, bapak senang dan bahagia ada anaknya yang mau mengurus lahan yang selama ini hanya mengkrak dan ditanami pohon buah, namun hasilnya kurang maksimal.

Maret 2018

Alhamdulillah, penanaman pepaya dimulai, kau menemani kami menanam bibit-bibit pepaya itu. Senyummu merkah sempurna, kau membawakan kami banyak bekal untuk dimakan di kebun.

 

Panen perdana, aku takkan bisa melupakan hari itu, kau berfoto bertiga bersama aku dan mas, senyummu takkan kulupa. Akan selalu ada senyummu dalam setiap pepaya dewangga yang manis. 


 

 

#Writober2020 #RBMIPJakarta #Dewangga #writoberday7

Kamis, 15 Oktober 2020

Aku Bukan Pilihan

 



“wajarlah dia anak kesayangan mamahnya, wajar, kamu pasti Cuma nomor dua”

“bukankah Islam memang memintanya menyayangi ibunya? Dia hanya menjalankan ajaran yang  diayakininya”

“kau bisa jadi nomor dua kalau begini terus, gimana anak-anakmu nanti? Bicaralah”

“tidak perlu, dia suami shalih, dia tau mana prioritas”

“ah, tau apa dia tentang kebutuhanmu dan anak-anak, ibunya yang utama”

“apakah dia pernah berbuat buruk padamu? Hanya karena dia sayang ibunya? Tidakpernahkan?

“ya, sekarang memang belum, kalau nanti, kedepannya gimana?”

“kau meragukan keshalihannya? Bukankah dia jawaban atas istikharah panjangmu?”

“masih bisa dirubah koq, belum terlambat, marahlah padanya”

“apakah marahmu membuat semuanya jadi semakin baik? Pikirkan kembali!”

“kalau kebanyakan mikir, terlambat, marah saja, gampang, tunjukkan sikapmu”

“ingat bagaimana hari yang indah sudah kau lewati bersamanya, apakah marah membuat indah hidupmu?”


“sesekali marahlah, biar dia tahu bahwa kau  tidak suka sikapnya”


“kau sudah sering marah, cukuplah, biarkan dia”

“hush..hush….kalau kelamaan dibiarkan, kau bias tersingkir, marahlah buat dia memilih kamu atau ibunya”

“kamu bukan pilihan, tidak usah kau ungkapkan kata itu, karena kau bukan pilihan, dia sudah memilih, tak akan dia ganti pilihannya, dia hanya menjalankan kewajibannya sebagai anak laki-laki”

 

Putaran tasbih semakin
kencang, diiringi derai air mata dan desahan istigfar makin melemah.

 

#Writober2020 #RBMIPJakarta #Senandika #writoberday6

Rabu, 14 Oktober 2020

Apakah ini badai?

  

Day#5

 

Apakah ini badai?

 

Gelap, hitam, pekat, ombak  menderu cepat, menyapu semua rasa yang ada.

 Luluh lantak, tak bersisa, berujung tangis, tangis yang entah kapan reda.

Inikah yang kau sebut dengan badai?

Kucoba berdiri, sulit, sepertinya tulangku lepas semua.

 

Kubuka mata, gelap.

Kubasuh air mataku, masih juga gelap.

Apakah ini badai?

Gelombangnya dingin, menusuk tulang.

Angin kencang menerpa tubuhku.

Dari mana angin ini datang.

 

Apakah ini badai?

Anginnya berhembus cepat, membuat lemas,

Sakit, menghujam jantung,

 

Apakah ini badai?

Sangat berat kulangkahkan kaki.

 

Apakah ini badai?

Saat telepon genggam berdering dan mengabarkan “innalillahi mba, mamah”


#Writober2020  #RBMIPJakarta #badai #writoberday5

Selasa, 13 Oktober 2020

Kabut Pagi

 

Perjalanan dimulai malam itu, sebuah perjalanan yang sulit kurasa. Sebelum berangkat, aku sempatkan shalat sunnah safar. Ini perjalanan mudik terberat buatku. Selepas mamah pergi, inilah mudik pertama keluarga kami.

Bumiayu, disini kami menunaikan shalat subuh. Aku masih bisa menahan rasa saat itu. Berusaha memejamkan mata ketika kembali menaiki mobil. Aku ingin terpejam saja, tertidur lalu tiba di depan rumah, tanpa melihat potongan kenangan kita setiap kali kita mudik.

Malam tadi sudah cukup membuat sesak, saat kami berhenti di pom bensin tempat kita pernah sarapan saat mudik beberapa tahun lalu. Aku masih mengingat lekat perbekalan yang kau siap kan untukku dan anak-anak. Sesak sekali melihat bangku biru itu. Kau bilang, mbah uti mau duduk di bangku biru ah, kan warna kesukaan mbah uti. Bangku biru masih disitu mah, tapi mamah sudah pergi.

Perjalanan masih terus berlanjut, persawahan mulai menyambut kami, indah sekali, pagi yang berkabut.


Biasanya, bila kau tidak mudik bersama kami, kau terlebih dahulu mudik dengan bapak naik kereta. Pagi begini, biasanya kau sudah menelepon kami, dan bertanya sudah sampai mana, karena bapak sudah bolak balik bertanya. Kau pasti bercerita tentang sarapan spesial yang sudah kau siapkan untukku. Tak lupa kau akan bilang sudah membelikan bubur sumsum kesukaan anak-anak.

Mataku mulai berkabut saat rumah sakit itu ada di kanan jalan. Suamiku mulai terisak, kuusap punggung tangannya, mataku berkabut menatapnya, isaknya semakin kencang. Semakin dekat, pasar itu, Pasar Tengok, tempat kita terakhir belanja bersama, mencari sale pisang kesukaan kaka.

Aku memandang keluar jendela mobil, kabut pagi masih mengiringi perjalanan kami.


#Writober2020 #RBMIPJakarta #Pagi #writoberday4

Senin, 12 Oktober 2020

NIhil

Day #3

#Nihil

 

“sayur asem, pepes ikan kembung, tempe goreng tepung, sambe kecap, cukup lah ya”, ujarku.

“cukup, bapak suka tuh pepes, emang ade bisa?”, mas setengah tak yakin.

“enak aja, ya bisa lah, cuma agak ribet, jadi dirumah, ga pernah biki, hehehe…” aku menjawab keraguannya.

“ya ayo kita ke pasar sekarang,”ajaknya.

 

Daftar belanja semua sudah terbeli, belanja dimasa pagebluk ini harus benar-benar bisa atur strategi, rencanakan semua sebelum berangkat ke pasar. Agar waktu dipasar bisa singkat dan semua kebutuhan terpenuhi.  Sejak kepergian mamah di Kebumen, kami tinggal semengara di rumah mamah, bergantian dengan kakak. Setiap dua pekan kami bergantian menjaga bapak.

Pagi ini aku mulai aktivitas memasak dengan menggelar semua perlengkapan di dapur. Di dapur ini, aku biasa menghabiskan waktu berdua mamah, mengobrol apa saja, kadang tawa berganti tangis saat cerita kami mengandung bawang merah. Setiap duduk di lantai dapur, aku membayangkan mamah ada disini. Aku merasa mamah hanya sedang pulang sebentar ke Kebumen, dan akan kembali.

Pagi itu semua masakan sudah siap, ketika aku ingin mengukus pepes, kucari panci untuk mengukus, kubongkar peralatan yang ada, belum ketemu juga. “mamah, panci kukusan yang besar dimana?”kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku. Aku terduduk, seketika tangisku pecah, tanyaku tak akan terjawab, nihil. Mamah sudah tidak bisa lagi menjawab tanyaku, sekeras apapun aku bertanya, bahkan teriak pun, mamah sudah tak bisa menjawabnya. Tanya yang tak akan terjawab.

 

 


#writober #RBMIPJakarta #Nihil #Writoberday3