Ramadhan 1437 H
Siang hari yang terik, aku membaca sebuah selebaran berita
bahwa hari itu tanggal 10 Juni 2016. Tiba-tiba air mata mengalir begitu saja,
beberapa hari lagi tanggal itu datang.
10 hari Terakhir
Ramadhan 1427 H
“Assalamualaikum mah..”
“waalaikumsalam, kenapa neng?”
“efi pulangnya besok ya, sore, abis buka Insya Allah sampe
rumah”
“kenapa begitu?”
“besok abis dzuhur
ngaji dulu, trus malem ini mau i’tikaf di Masjid At Tin taman mini, boleh ya?”
“lah..i’tikaf mah harus ama muhrim kali, masa sendirian
begitu?”
“gapapa lah...ya..boleh ya...okeh..okeh?”
“ya udah lah ati-ati ya”
“hehe alhamdulillah..makasih mah, salamualaikum.”
“waalaikumsalam”
Hufftt...legaaaa..kututup gagang
telepon koin itu dengan penuh sukacita, lalu bergegas menuju kamar kos dan
langsung mempersiapkan semuanya.
Sore itu angkot merah
mengantarkanku menuju tempat tujuan, Masjid At Tin. Pertama kali nya dalam
hidupku, berangkat i’tikaf seorang diri tanpa teman. Kulewati semua ibadah
ramadhan malam itu dengan khusyu’. Tiba saat qiyamul lail, ada do’a spesial
yang kupanjatkan malam itu.
“ Ya Allah, hamba memohon
kepadamu, jika Engkau takdirkan hamba menikah, maka pertemukanlah hamba dengan
jodoh hamba yang dapat menguatkan hamba di jalan dakwah ini, jodoh yang dapat
membuat hamba terus berada di jalan ini, jodoh yang dapat mengokohkan perjalan
panjang ini. Namun bila Engkau takdirkan hamba untuk tidak menikah maka kuatkan
dan mudahkan hamba untuk membuat bidadari cemburu pada hamba dengan segala amal
shaleh yang hamba lakukan, aamiin.”
Doa itu terus berulang-ulang
terucap dari bibir ini, tanpa terasa waktu sahur tiba.
Setelah dhuha kutinggalkan masjid
At Tin dengan mantap dan berdoa dalam hati, semoga tahun depan bisa i’tikaf
lagi. Tujuan selanjutnya adlaah bertemu teman-teman seperjuangan dan
mendengarkan hiburan indah pekanan yang selalu aku rindukan.
Tiba ditempat tujuan kedua, ada
satu perkataan sang guru yang tak akan pernah kulupakan, “kaka doakan semoga
setelah Ramadhan nanti ukhti semua dapat hadiah ramadhan terindah dalam hidup..”
Kalimat penutup dari sang guru
yang dengan segera kami aamiin kan.
Hadiah ramadhan itu datang di
bulan Dzulqaidah, seseorang yang kemudian hadir disampingku, teman sejati yang
Insya Allah sesuai dengan doa yang kulantunkan saat itu.
10 kali Ramadhan berlalu, dan
besok, hari itu datang, hari dimana seorang lelaki mengucapkan janjinya
dihadapan kakak pertamaku. Seorang lelaki yang telah hadir sesuai pintaku padaNYA,
yang menguatkanku dijalan ini, mengokohkanku dijalan ini, menggandengku untuk
terus melalui jalan ini. 9 Ramadhan kulewati bersamanya, berdua, lalu bertiga,
berempat, lalu sekarang berlima. Malam ini begitu berbeda, aku memandang
wajahnya, berbagai kerikil dijalan sudah kulewati bersamanya, berbagai kelokan
kelokan tajam jalan ini, ketika aku sempat terseok ia selalu bisa membuatku
bangkit dan tetap berjalan di jalan ini dengan genggamannya yang erat.
Di Ramadhan kesembilan ini
perkenankan aku untuk melantunkan sebuah doa,
“ Ya Allah satukan kami dalam
nanungan cintaMu, berikanlah keberkahan dalam perjalanan pernikahan kami,
berikanlah kekuatan kepada kami berdua untuk terus meniti jalan ini hingga maut
memisahkan kami berdua, Ya Rahman yaa Rahim, pertemukan kami kembali di JannnahMu
kelak..”