Pagi ini aku masih mengantuk, tapi tidak akan kulewatkan film kartun kesukaanku ini. Sambil rebahan aku mulai menonton. Derai tawaku di dengar ibu dan ibu berkomentar, entah apa aku tak jelas mendengarnya.
Lama kelamaan aku melihat, ibu berubah menjadi Doraemon dan menggandengku menuju pintu kemana saja. Aku teriak, ibu kita mau kemana?
Ibu hanya tersenyum menggandengku. Aku tak bisa mengelak. Ibu membuka pintu kemana saja dan sampailah aku disebuah tempat yang dipenuhi pohon rindang, dipinggir sungai berbatu dengan suara gemericik air yang menentramkan.
Ibuuu, aku guncang kembali badan Doraemon yg masih menggandengku, ibu hanya tersenyum. Aku bertanya, ibu jadi Doraemon? Lagi-lagi ibu tersenyum. Lalu Doraemon itu pergi menjauh meninggalkanku sendirian duduk di tepi sungai teduh. Aku hanya terdiam.
Tak lama, aku melihat ibu menggandeng bapak, jalan dari kejauhan. Aku mengerjapkan mata, apa benar itu bapak? Aku lari menyongsong mereka. Kupeluk keduanya, aku bertanya pada ibu, ibu sudah berubah? Ibu hanya tersenyum. Bapak menggandengku dan mengelus rambutku. Aku tanya bapak, bapak sehat? Bapak hanya menjawab dengan senyuman.
Lalu kami bertiga berjalan menyusuri sungai dan duduk ditempat aku duduk tadi. Bapak dan ibu memandangiku dengan bahagia. Kemudian bapak berkata, "kamu sudah besar ya dek, jadi anak yang nurut sama ibu ya, bantu ibu, cepat selesaikan kuliahmu, biar bisa bantu ibu, bapak pamit dulu". Hendak kubuka mulut ini untuk menjawab perkataan bapak, namun bapak sudah berlalu kembali menggandeng ibu. Aku cepat-cepat bangun dan hendak mengejar mereka. Namun mereka menghilang dengan cepat. Aku bingung, aku berteriak memanggil, "ibuuu... ibuu...."
"Eh...bangun dek, banguuun,..." Aku merasa badanku di guncang-guncang. Aku membuka mata, ibu sudah di depanku, seketika itu kupeluk ibu. Ibu nampak bingung, kuciumi ibu, "maafin Adek ya bu, maaafin".
Ibu semakin bingung, "kamu mimpi apa sih? Sampe teriak begitu". Kuceritakan kembali mimpiku. Dan ibu menitikkan air mata, lalu berkata "itu tandanya bapak minta didoakan sama kamu, sekaligus tanda, kalau mungkin ibu akan nyusul bapak segera, kamu mesti siap ya dek," lembut ibu mengusap kepalaku.
Seketika itu aku terisak, mengingat almarhum bapak yang berpulang ketika aku masih SD. Ah, ibu aku masih ingin ditemani.
Syedihhh...
BalasHapusSemoga almarhum bapak mba Efi sudah tenang disana ya mba...Al-Fatihah..
BalasHapusSediiiihhhh, mba Efii ðŸ˜
BalasHapusJadi inget Bapak ku juga.
BalasHapusSediiih, kalau mimpi soal orang tua sering banget sampai beneran nangis di sunia nyata 😢
BalasHapusJadi rindu sama Bapakku juga Mba.. 😢
BalasHapus