Ketika Allah takdirkan sakit ini datang, ada jutaan rasa
yang tak terdefinisi. Petanyaan, kenapa aku? Kenapa aku yang sudah menjaga ini?
Kenapa aku yang sudah berusaha dengan keras menjaga? Menjaga maknan, menjaga
asal makanan, menjaga kebugaran. Dan pertanyaan kenapa dan mengapa lainnya.
Kembali merenung, akan lari kemana label diri yang sudah
melekat dan sudah diusahakan selama hamper 10 tahun ini? Bagaimana kalua
orang-orang akan berkata, lah koq pegiat organic urban farming malah kena
kanker? Lah katanya selama ini menjaga? Lah jangan-jangan selama ini Cuma
pencitraan? Duh ya Allah, gimanaa?
Tenggelam dalam lautan tangis, sedih, menyesal, bingung,
takut, dan berbagai rasa yang tak terdefinisi. Tangis dalam sujud Panjang
mempertanyakan mengapa. Sampai dihari ketika sang belahan jiwa berkata, ini
ujian dari Allah buat kita berdua, buat keluarga ini, kita terpilih dapat ujian
ini, insyaAllah kita bisa melewati semuanya. Ia pun berkata bahwa, tak usah lagi
bertanya kenapa, karena ini hadiah dari Allah, seperti yang dokter bilang.
Ujian ini hadiah dari Allah di usiaku yang tepat 40tahun. Akankah
aku bisa melewati semuanya? Akhirnya kuhapus semua tanya mengapa, dan menapaki
langkah demi langkah menyusuri jalan yang Allah hadiahkan untukku. Diawali dengan
istikharah untuk memilih jalan ikhtiar apa yang akan kami tempuh dalam
mengarungi hadiah ini. Sang belahan jiwa akhirnya berkata, ia sudah memutuskan
bahwa kami akan menjalani pengobatan medis saja. Ya pengobatan medis adalah
pengobatan yang terukur dan sudah memiliki standar untuk hadiah yang Allah
berikan.
Mengapa kami yang akan menjalani? Bukankah yang sakit hanya aku?
Dokter bilang, semua keluarga berperan dalam menjalani ini semua, karena aka
nada saatnya aku butuh pertolongan dari semuanya, terutama kelaurga kecil kami.
Beragam pemeriksaan di lakukan untuk menentukan langkah pengobatan yang akan
diambil. Dari hari itu, rumah sakit menjadi rumah kedua untuk kami. Kami pun
memutuskan untuk pindah sementara mendekati rumah sakit.
Kemoterapi yang kujalani sempat membuat aku bergantung pada
morphin. Ada dalam hari-hariku morphin sudah tidak bisa lagi menjadi penghilang
rasa sakit luar biasa yang kualami. Saat itu, aku merasa menjadi orang paling
sakit sedunia, aku ingin mati saja. Aku memutuskan untuk tidak makan dan minum
juga tidak bertemu anak-anak dan menghilang dari dunia. Di hari ketiga, Allah
tetap menakdirkan aku tetap hidup, akus sudah lemas, sang belahan jiwa mengingatkan,
mati dan hidup makhluk Allah itu sudah ditetapkan, kita tidak bisa mempercepat
atau memperlambat. Tiga hari yang syarat makna, melahirkan sebuah hikmah baru dalam
hidupku. Bahwa ketika pagi menjelang, aku masih bisa membuka mata, maka bekalku
untuk berjumpa denganNYA belum cukup, maka aku harus terus mencari bekal
sebanyak-banyaknya untuk perjumpaan terindah denganNYA. Bahwa kita akan diuji
dengan apa yang kita bawa, ketika Allah memberikan hadiah berupa kanker
payudara, padahal aku sudah menjaga sedemikian, dan tipe kanker payudaraku ini
bukan tipe payudara hormonal, maka dokter berkata, ini adalah hadiah Allah
untukku. Maka, kutapaki hari-hari selanjutnya untuk terus menambah bekal, meski
kadang terseok, tapi kumelangkah dengan pasti bahwa Allah punya rahasia
terindah untukku.
Special untuk belahan jiwa, terimakasih sudah menemani dan
terus ada…terimakasih
#tatitatu #rbmipjakarta

masyaAllah Mbak Efi T^T T^T T^T
BalasHapusrasanya terharu baca ini, tak terhindarkan yaa Mbak berbagai pikiran dan sempat patah arang juga padahal kalau lihat sekilas sepertinya Mbak Efi selalu tegar menghadapi setiap prosesnya. MasyaAllah. Semoga menjadi penggugur dosa buat Mbak Efi dan keluarga. semoga sehat selalu dan terus menginspirasi, Mbak Efi :")