Kamis, 15 Oktober 2020

Aku Bukan Pilihan

 



“wajarlah dia anak kesayangan mamahnya, wajar, kamu pasti Cuma nomor dua”

“bukankah Islam memang memintanya menyayangi ibunya? Dia hanya menjalankan ajaran yang  diayakininya”

“kau bisa jadi nomor dua kalau begini terus, gimana anak-anakmu nanti? Bicaralah”

“tidak perlu, dia suami shalih, dia tau mana prioritas”

“ah, tau apa dia tentang kebutuhanmu dan anak-anak, ibunya yang utama”

“apakah dia pernah berbuat buruk padamu? Hanya karena dia sayang ibunya? Tidakpernahkan?

“ya, sekarang memang belum, kalau nanti, kedepannya gimana?”

“kau meragukan keshalihannya? Bukankah dia jawaban atas istikharah panjangmu?”

“masih bisa dirubah koq, belum terlambat, marahlah padanya”

“apakah marahmu membuat semuanya jadi semakin baik? Pikirkan kembali!”

“kalau kebanyakan mikir, terlambat, marah saja, gampang, tunjukkan sikapmu”

“ingat bagaimana hari yang indah sudah kau lewati bersamanya, apakah marah membuat indah hidupmu?”


“sesekali marahlah, biar dia tahu bahwa kau  tidak suka sikapnya”


“kau sudah sering marah, cukuplah, biarkan dia”

“hush..hush….kalau kelamaan dibiarkan, kau bias tersingkir, marahlah buat dia memilih kamu atau ibunya”

“kamu bukan pilihan, tidak usah kau ungkapkan kata itu, karena kau bukan pilihan, dia sudah memilih, tak akan dia ganti pilihannya, dia hanya menjalankan kewajibannya sebagai anak laki-laki”

 

Putaran tasbih semakin
kencang, diiringi derai air mata dan desahan istigfar makin melemah.

 

#Writober2020 #RBMIPJakarta #Senandika #writoberday6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar