Rangkaian tulisanku untuk event writober ini adalah catatan penggalan kisahku bersama mamah, mamah yang dipanggil Allah saat pagebluk ini menerpa negri.
Mamah, beliau biasaku panggil, seorang ibu tangguh dari seorang lelaki yang sangat kucintai. Yap, beliau adalah ibu mertuaku. Namun, aku tak pernah menyebutnya ibu mertua, karena buatku, ketika aku dinikahi anak lelaki mamah, maka aku adalah anaknya.
Ideal sekali hubungan kami, seperti tak pernah ada konflik diantara kami, ahh teman. I’m just ordinary woman, I’m just ordinary wife. Aku Cuma lulusan universitas yang konon, terbaik di negri ini. Aku bukan lulusan sekolah istri, apalagi sekolah menantu ideal.
Bahkan aku tak pernah ikut kursus singkat bagaimana menjadi menantu dan istri yang baik. Aku cuma perempuan yang berusaha menjalankan kewajiban sebaik yang aku bisa tanpa berharap mendapatkan hak, adalah bonus buatku ketika kewajiban semua tertunaikan dengan baik.
Semua rangkaian tulisan di writober ini adalah penggalan kisah indah dari jutaan kisah indah hubunganaku dengan mamah. Semua kisahku indah, itu yang selalu kutanamkan dalam benak. Karena semua ksiah berakhir indah, meski Allah menakdirkan kami berpisah lebih cepat. 12 tahun 8 bulan 4 hari menjadi menantu mamah, membuatku belajar bagaimana menjadi menantu yang baik untuknya, dan menjadi istri yang baik untuk suamiku.
Penggalan perjalanan indahku ini, bagaimana pincangnya hidupku selepas kepergiannya. Bagaimana rinduku padanya, karena tanpa kusadari, aku tak pernah melewatkan pekan tanpa meneleponnya. Bagaimana tanggapnya mamah ketika aku sibuk dengan beragam kegiatanku. Bagaimana mamah selalu hadir disaat aku kesulitan. Mamah selalu Bahagia saat kutitipkan anak-anak, ketika aku harus mendampingi suami keluar kota, atau sekedar kencan memelihara cinta.
Allah mengambil mamah disaat terindah hubungan kami. Bahkan selepas kuucapkan dengan verbal, bahwa aku sayang padanya. Mungkin itu hal yang jarang terucap dikeluarga kami. Tapi itu semua kulakukan, saat suster mengizinkanku meneleponmu di ruang isolasi. Kuungkapkan semua rasa, kau minta didoakan, dan aku pastikan bahwa doaku selalu untukmu, efi sayang mamah. Kau jawab lantang, mamah sayang neng efi. Beberapa jam setelah itu, Allah merengkuhmu dalam pelukan indah. Pelukan yang mengakhiri semua sakitmu, semua sesakmu dan semua beban hidupmu.
Mamah, biarkan aku terus menyimpan rindu ini, hingga Allah pertemukan kita kelak di JannahNya.
#Writober2020 #RBMIPJakarta #Asa #writoberday10


Tidak ada komentar:
Posting Komentar