Selasa, 13 Oktober 2020

Kabut Pagi

 

Perjalanan dimulai malam itu, sebuah perjalanan yang sulit kurasa. Sebelum berangkat, aku sempatkan shalat sunnah safar. Ini perjalanan mudik terberat buatku. Selepas mamah pergi, inilah mudik pertama keluarga kami.

Bumiayu, disini kami menunaikan shalat subuh. Aku masih bisa menahan rasa saat itu. Berusaha memejamkan mata ketika kembali menaiki mobil. Aku ingin terpejam saja, tertidur lalu tiba di depan rumah, tanpa melihat potongan kenangan kita setiap kali kita mudik.

Malam tadi sudah cukup membuat sesak, saat kami berhenti di pom bensin tempat kita pernah sarapan saat mudik beberapa tahun lalu. Aku masih mengingat lekat perbekalan yang kau siap kan untukku dan anak-anak. Sesak sekali melihat bangku biru itu. Kau bilang, mbah uti mau duduk di bangku biru ah, kan warna kesukaan mbah uti. Bangku biru masih disitu mah, tapi mamah sudah pergi.

Perjalanan masih terus berlanjut, persawahan mulai menyambut kami, indah sekali, pagi yang berkabut.


Biasanya, bila kau tidak mudik bersama kami, kau terlebih dahulu mudik dengan bapak naik kereta. Pagi begini, biasanya kau sudah menelepon kami, dan bertanya sudah sampai mana, karena bapak sudah bolak balik bertanya. Kau pasti bercerita tentang sarapan spesial yang sudah kau siapkan untukku. Tak lupa kau akan bilang sudah membelikan bubur sumsum kesukaan anak-anak.

Mataku mulai berkabut saat rumah sakit itu ada di kanan jalan. Suamiku mulai terisak, kuusap punggung tangannya, mataku berkabut menatapnya, isaknya semakin kencang. Semakin dekat, pasar itu, Pasar Tengok, tempat kita terakhir belanja bersama, mencari sale pisang kesukaan kaka.

Aku memandang keluar jendela mobil, kabut pagi masih mengiringi perjalanan kami.


#Writober2020 #RBMIPJakarta #Pagi #writoberday4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar