Kamis, 08 Oktober 2020

Biyen

 

Biyen

 

“jaman biyen jaman pagebluk, uwong pada mati nang dalan, Ya Allah aku melu ngalami maning,” matanya menerawang menatap langit-langit. Aku yang berada dihadapannya hanya terdiam, berusaha memahami perasaan yang berkecamuk di dalam diri Bapak. Pagebluk ini membuat bapak kehilangan orang yang paling disayanginya. Mamah kami, berpulang disaat pagebluk ini baru mengemuka.

Kehilangan orang yang dicintai membuat kondisi bapak semakin menurun. Kondisi ini diperparah dengan pagebluk yang terus berkepanjangan. Bapak tidak bisa kemana-mana, hanya dirumah saja, berpindah dari rumah anak yang satu ke rumah anak yang lain. Bahkan untuk menziarahi makam kesayangannya pun sulit, karena mamah dimakamkan jauh di Kebumen, Jawa Tengah.

Ah, bapak, pasti sedihmu berlipat. Aku hanya bisa empati dan mendengarkan ceritamu. Pagebluk yang dulu membuatmu trauma, ditambah pagebluk yang sekarang, yang merenggut nyawa kesayanganmu. Aku hanya bisa menemanimu mengisi hari yang semakin sepi.

“kapan pagebluk selesai ya?”

“belum tau pak, vaksin masih di uji coba”

“Ah apa iya vaksin bisa mengatasi? Wis terlalu banyak korban”

“iya pak”

Ah, bapak, engkau menjadi saksi betapa pagebluk dulu dan sekarang sama sengsaranya. Mungkin pagebluk yang sekarang adalah yang terparah meski pagebluk yang dulu pun membuatmu trauma.

 

Ket:

Biyen: dahulu (jaman dahulu)

“jaman biyen jaman pagebluk, uwong pada mati nang dalan, Ya Allah aku melu ngalami maning,”: “jaman dahulu jaman pagebluk, orang meninggal di jalanan, Ya Allah aku mengalaminya kembali”

wis: sudah

 

 

#writober2020 

#RBMIPJakarta 

#Pagebluk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar