Senin, 12 Oktober 2020

NIhil

Day #3

#Nihil

 

“sayur asem, pepes ikan kembung, tempe goreng tepung, sambe kecap, cukup lah ya”, ujarku.

“cukup, bapak suka tuh pepes, emang ade bisa?”, mas setengah tak yakin.

“enak aja, ya bisa lah, cuma agak ribet, jadi dirumah, ga pernah biki, hehehe…” aku menjawab keraguannya.

“ya ayo kita ke pasar sekarang,”ajaknya.

 

Daftar belanja semua sudah terbeli, belanja dimasa pagebluk ini harus benar-benar bisa atur strategi, rencanakan semua sebelum berangkat ke pasar. Agar waktu dipasar bisa singkat dan semua kebutuhan terpenuhi.  Sejak kepergian mamah di Kebumen, kami tinggal semengara di rumah mamah, bergantian dengan kakak. Setiap dua pekan kami bergantian menjaga bapak.

Pagi ini aku mulai aktivitas memasak dengan menggelar semua perlengkapan di dapur. Di dapur ini, aku biasa menghabiskan waktu berdua mamah, mengobrol apa saja, kadang tawa berganti tangis saat cerita kami mengandung bawang merah. Setiap duduk di lantai dapur, aku membayangkan mamah ada disini. Aku merasa mamah hanya sedang pulang sebentar ke Kebumen, dan akan kembali.

Pagi itu semua masakan sudah siap, ketika aku ingin mengukus pepes, kucari panci untuk mengukus, kubongkar peralatan yang ada, belum ketemu juga. “mamah, panci kukusan yang besar dimana?”kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku. Aku terduduk, seketika tangisku pecah, tanyaku tak akan terjawab, nihil. Mamah sudah tidak bisa lagi menjawab tanyaku, sekeras apapun aku bertanya, bahkan teriak pun, mamah sudah tak bisa menjawabnya. Tanya yang tak akan terjawab.

 

 


#writober #RBMIPJakarta #Nihil #Writoberday3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 komentar: